Page 118 - Dewan Sastera 8
P. 118
Datuk Ketemenggungan sekeluarga, dari Walaupun orang tahu bahawa Bujang Bujang Kurap menghabiskan hayat
kerajaannya, Pagarruyung. 1 Kurap ialah pemuda yang bersahaja, di sebuah kampung di Lubuklinggau, Ulak
menghormati orang yang lebih tua, bahkan Lebar5. Di sana, ia mengajarkan silat dan
Setelah sekian lama mengikuti — ini yang lebih terperhatikan kala itu — tak kuntau bela diri Sumatera, ilmu kesaktian
pengembaraan sang raja, singgahlah Datuk jarang meringkus perampok yang masuk yang dimilikinya kepada penduduk setempat
Saribijaya di Titiang Dalam, salah satu kampung kampung, namun mereka masih saja dan datangan.
di Sorulangun Jambi2. Di sana, ia menaut hati menjulukinya seperti itu. Nah inilah yang
seorang gadis dari keluarga Kerajaan Melayu perlu didudukkan: julukan yang disematkan Bujang Kurap dikebumikan di kaki Bukit
Bangko. Putri Sari Banilai, demikian hikayat pada si pemuda, tak lain tak bukan, demi Sulap, daerah yang dibentuk oleh tiga aliran
menceritakan namanya. Alahai, siapakah memudahkan penjelasan tentang siapalah sungai: Sungai Kasie, Sungai Ketue, dan
yang tak ingin disunting laki-laki gagah serupa orang berhati baik yang dimaksud. Ya, Sungai Kelingi.
Datuk Saribijaya. Ya, walaupun ia tiada jemawa tak ada niat untuk berolok-olok dengan
dengan ketinggian derajat yang disandang julukannya itu. Sebenarnya apa-apa yang baru sahaja
semasa di Minangkabau, namun kilau air muka, diceritakan dapatlah dikatakan sebagai
pembawaan, dan tindak-tanduknya tak urung Dan, itulah mulianya orang tua. sebuah ringkasan yang tak sempurna dari
memikat sesiapa, tak terkecuali bagi gadis-gadis Tiadalah mereka berasa malu dengan sebuah kisah yang utuh6.
Jambi, tak terkecuali bagi seorang Putri Sari apa-apa yang mendera anak bujangnya itu.
Banilai. Maka, Bujang Kurap berasa sedih yang tak Bujang Kurap juga manusia. Pastilah
alang kepalang ketika ibunya meninggal. Tak ada kekurangan, kekhilafan, dan keburukan
Kain panjang dikebat. Perayaan lama berkelang, Bujang Kurap pamit pada sifat dan tabiatnya. Namun begitu, tanpa
besar pun dihelat. Bertangkup dua hati, ayahnya untuk merantau, mengembara bermaksud mencari alibi, apa-apa yang
berjatuhanlah kelapa muda, bernyanyilah mencari kesaktian sebagai cara orang hitam dalam perjalanan hidupnya tiba-tiba
murai-murai Batanghari Sembilan. Datuk dahululah. menguap saja, pabila disandingkan dengan
Saribijaya dan Putri Sari Banilai memadu keelokkan budi pekertinya.
kasih secara adat dan kepercayaan. Mereka Dalam kisah yang sudah dipersingkat,
pun beranak-pinak. setelah memperoleh kesaktian dari sebuah Hingga kini, di tepi Sungai Kelingi,
pertapaan, Bujang Kurap melanjutkan sebelah selatan Benteng Kuto Ulak Lebar,
Keturunan dari Datuk Saribijaya dan perjalanan hingga tiba di sebuah aliran air tempat Bujang Kurap tidur berbungkus kain
Putri Sari Banilai ini pun merajut keluarga- bernama Sungai Rawas. Aliran itu hulunya putih murah, masih ada saja orang-orang
keluarga kecil pula. Nah, salah satu bermula dari celah gugusan bukit di sebelah yang mengadakan ritual demi sesuatu yang
keturunan keluarga dari silsilah itu rupanya timur Bukit Barisan. Dari sini, mengalir sebenarnya mereka sendiri tak sepenuhnya
dititipkan Tuhan seorang bayi laki-laki yang ke arah timur: panjang dan berliku-liku. yakin dapat diraih.
kelak termasyhur namanya di seantero Akhirnya bermuaralah di daerah yang kini
Musirawas dan sekitarnya. bernama Musi Banyuasin, namun masih Artinya, pabila kalian tidak hakkul
berdekatan dengan perbatasan Musirawas. percaya pada cerita yang diringkas ini,
Entah bagaimana, orang tuanya3 Maka itu, Bujang Kurap pun melalui dusun- setidaknya lihatlah orang yang belum tegak
yakin saja bahwa suatu saat nanti, putranya dusun di sepanjang sungai: Kota Tanjung, imannya itu. Mereka mungkin tak faham
akan menjadi pemuda yang berhati mulia. Napal Licin, Muara Kulam, Muara Kuis, beragama, namun mereka fpaham sekali
Keyakinan itu tiada jua goyah meskipun Pulau Kidak, dan banyak lagi, berakhirnya di bahwa tiadalah akan “berkahâ€â€”menurut
beberapa tahun setelah itu, lahir seorang Dusun Pauh, dan bermuara di daerah dekat mereka—sesembahan yang dijaban, pabila
bayi perempuan4 dalam keluarga mereka. Sungai Musi yang bernama Muara Rawas. arwah yang diharapkan membubung itu
Ya, walaupun dalam tumbuh kembangnya, bukan orang baik-baik semasa hidupnya.
si sulung kerap mengidap penyakit gatal di Bujang Kurap membantu penduduk
sekujur tubuhnya, namun tak pernah mereka dusun yang dilaluinya. Membantu menaikkan Oh, malu sebenarnya mengatakan ini:
berpilih kasih dalam mencurahkan kasih bumbungan rumah, mengangkut batu Apabila tak bisa diajak bersekutu orang
pada kedua-dua buah hatinya. Sang putra jelapang untuk memirik rempah, membuka kampung demi merobohkan batang yang
tetap diurus sebagai anak yang sakit mesti ladang, menyadap karet, memanen kopi, besar itu, maka tak ada salahnya bukan, kami
diperhatikan. Bahkan banyak tabib dan dan tentu sahaja dengan semua kesaktian mengait tangan kalian untuk mengkhabarkan
orang pintar yang dimintai bantuan untuk yang dimiliki, ia mengamankan kampung kebaikan yang tak dimunculkan?
mengobatinya, namun tetap, tak kunjung daripada sekawanan penyamun, perampok, Ya, Bujang Kurap kami bukan serupa
sembuh penyakit anak bujang mereka. dan kelompok pembuat onar lainnya. Malin Kundang di Minangkabau. Namun
begitu, uda-uni di barat Sumatera dapat
Singkat cerita, putra mereka tumbuh Nama Bujang Kurap pun termasyhur dengan layak menempatkan cerita anak
sebagai pemuda kurap, hingga orang- di bantaran Sungai Rawas. Orang menaruh durhaka itu sebagai pembelajaran akhlak
orang menjulukinya “Bujang Kurapâ€. Dan, hormat padanya. “Bujang Kurap†bukan lagi dan budi pekerti. Keadaan ini perkara
terbuktilah peribahasa lama itu: Tiadalah julukan yang memerudukkan keburukan salah bungkus! Kami pun kadang-kadang
Tuhan menciptakan manusia sebagai seseorang. “Bujang Kurap†dipakai untuk membersit tanya: Mengapa sampul cerita ini
makhluk yang berkekurangan saja. melukiskan betapa baiknya hati seorang harus bertulis “Bujang Kurapâ€. Mengapa tak
Ya, sebagaimana dahulu orang tuanya pemuda; betapa rupa bukanlah tiang untuk mengambil judul lain?
berkeyakinan, Bujang Kurap juga tumbuh mengukur tabiat. O bukan hanya itu, kawan! Cerita ini tak
sebagai pemuda yang berbudi. pernah dibukukan sebagaimana layaknya
buku bacaan (jadi, jangan berharap kalian
20 DEWAN SASTERA | BIL. 08 2019

