Page 130 - Dewan Sastera 8
P. 130
YAPI PANDA ABDIEL TAMBAYONG (ER: Japi Tambajong) atau NORMAN ERIKSON PASARIBU
lebih dikenal dengan nama pena Remy Sylado lahir di Makassar, Sulawesi
Selatan, pada 12 Juli 1945; berumur 74 tahun, merupakan salah satu lahir di Jakarta, pada tahun 1990. Dia lulus
sasterawan Indonesia. Masa kecil dan remaja di Semarang dan Solo. Sejak dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
kecil hobinya bertanya tentang banyak hal terkait dengan urusan agama. Latar jurusan Akuntansi. Tulisannya telah muncul
belakang agamanya yang kuat membuat orang tuanya mengirim dirinya sekolah termasuk dalam Asymptote Journal, Cordite
ke seminari. Poetry Review, dan Asia Literary Review.
Kumpulan cerita pertamanya Hanya
Dia memulai kerjaya sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi
1965), redaksi majalah Aktuil Bandung (sejak tahun 1970), pensyarah Aku Harus Menunggu merupakan finalis
Akademi Sinematografi Bandung (sejak 1971), ketua Teater Yayasan Kusala Sastra Khatulistiwa untuk Prosa
Pusat Kebudayaan Bandung. Dia menulis kritik, puisi, cerpen, novel pada tahun 2014. Kumpulan puisinya
(sejak berusia 18 tahun), drama, esei, sajak, roman popular, juga buku-buku Sergius Mencari Bacchus memenangi
musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Remy terkenal kerana sikap beraninya tempat pertama Sayembara Manuskrip
menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan drama yang dipimpinnya. Dia Buku Puisi DKJ 2015 dan finalis Kusala
juga salah satu pelopor penulisan puisi “mbelingâ€. Sastra Khatulistiwa untuk Puisi pada
tahun 2016, dan salah satu buku puisi
Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, drama, dan tahu rekomendasi majalah Tempo. Sampel
banyak akan filem. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi terjemahan oleh Tiffany Tsao untuk Sergius
hadiah Kusala Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Mencari Bacchus merupakan salah satu
Kirmizi. pemenang dari PEN Presents oleh English
PEN. Buku itu bersaing dengan lima buku
Remy juga dikenal sebagai seorang Munsyi, ahli bidang bahasa. Dalam lainnya di Translation Pitch di London pada
karya fiksinya, sasterawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang Jun 2017.
sudah jarang-jarang dipakai. Hal ini membuat karya sasteranya unik dan istimewa,
selain kualiti tulisannya yang tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung
dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan
Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua.
Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin taip ini juga banyak
melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan
kreatif, ia juga kerap diundang berceramah tentang teologi.
Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung
dan Jakarta, seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, dan
Sekolah Tinggi Teologi.
32 DEWAN SASTERA | BIL. 08 2019

