Page 122 - DS_Disember2019_web
P. 122
MASTERA | CERPEN BIODATA PENGKARYA
“Ketapang kencana berubah jadi pohon emas …,†katanya perlahan. Bre Redana atau Don Sabdono
“Mami bermimpi ketapang kencana berubah jadi emas?†lahir di Salatiga, Jawa Tengah
Dalam posisi tidur miring ia menganggukkan kepala. pada 27 November 1957.
“Kencana ertinya memang emas, Mi…,†ucapku. “Kencanawungu, Lulusan Jurusan Sastera Inggeris
emas ungu ….†Universitas Satya Wacana,
“Pohon itu tumbuh tinggi sekali, sampai di balik awan …,†ia Salatiga (1957). Pernah belajar
meneruskan ucapan seperti pada diri sendiri, “Mami naik memanjatnya. jurnalisme di School of Jounalism
Dahan demi dahan. Tiba-tiba Mami sudah di balik awan dan tak bisa lagi and Media Studies, Darlington,
kembali,†lanjutnya, dengan air mata kembali keluar. Inggeris (1990-1991). Tulisannya
“Kembang tidur, Mami …,†kataku. mengangkat tema kaum urban
Mami diam saja. dan pergelutannya, seperti
“Bila Rani pulang lagi …?†tanyanya pelan. Urban Sensation (1993), Dongeng
“Tahun depan. Katanya mahu tahun baru di New York.†untuk Seorang Wanita (1999), dan
Ia kembali diam. Sarabande (2002).
“Tahun depan …,†Mami seperti bicara pada diri sendiri.
“Tahun depan ertinya hanya bulan depan, Mi. Ini sudah Disember.†Pendidikan sekolah dasarnya
Dia tak menjawab. Malah berucap sendiri, â€Ketapang kencana ….†di SD Kanisius (1970) dan SMP
Kutatap lagi foto di dinding kamar. Teh Rani dan Marita dengan Negeri 2 (1973) diselesaikan di
senyumnya yang manis. Tak ada yang mengalahkan manisnya perempuan kota kelahirannya. Kemudian,
Sunda, tetapi foto ini tak mungkin bisa menemani Mami. ia lanjut ke STM Kristen
Klaten. Setelah tamat STM,
*** Bre berkuliah jurusan Bahasa
Inggeris, Universitas Kristen
Kuputuskan menelefon Teh Rani. Dengan antusias dia bertanya, Satya Wacana, Salatiga. Waktu
bagaimanakah keadaan Mami. Rumah bagaimana? Baik-baik saja? Katanya, kuliah ia berkenalan dengan
dia bermimpi tentang rumah. Apa yang diimpikan Teteh, aku bertanya. dunia jurnalistik dan aktif di
Ketapang kencanamu bertumbuh bagus sekali. Tinggi menjulang, dahan- pers mahasiswa Gita Mahasiswa.
dahannya menjadi emas. Ketika duduk di bangku kelas
2 STM, Bre mulai mengirim
Aku terkesiap. tulisannya kepada media massa.
“Halo…,†suara Teh Rani, mendapati suaraku menghilang. Saat itu, medio 1975, ia mengirim
“Oh, halo…,†kataku. karangan fiksyen tentang cinta
“Kamu mendengar?†pertama ke majalah Detektif &
â€Ya, ya, aku mendengar,†ucapku. Romantika. Sewaktu menjadi
“Kenapa kamu diam saja?†mahasiswa, ia rajin menulis
Sejenak aku berfikir, “Tahun baru sebaiknya kita semua di rumah Mami untuk pers di kampusnya.
saja …,†ucapku. Tulisannya juga banyak dimuat
Dia yang kemudian balik terdiam. dalam Sinar Harapan dan Merdeka.
“Halo,†kataku.
“Ya, aku mendengar …,†kata Teh Rani pelan, “Aku fikir juga begitu,â€
tambahnya tetap dengan nada pelan.
“Jadi Teteh akan pulang? Tak jadi ke New York?†aku bicara antusias.
“Tidak jadi. Aku akan pulang. Tahun baru di rumah Mami. Kamu juga.
Awas, jangan ada acara lain.â€
Aduh, serentak kubayangkan betapa bakal membahagiakannya tahun
baru kali ini. Teh Rani ialah pusat keluarga. Rumah akan langsung ramai
begitu dia pulang. Kureka-reka sendiri kami akan mengadakan barbeque
atau pesta bakar-bakaran di halaman. Cari daging terbaik. Minum wain
bersama-sama Teh Rani—sembari mengajari yang lain-lainnya. Mami akan
kembali melucu. Mungkin malah merokok. Biar saja.
Kami akan berpesta di bawah ketapang kencana. Cucu-cucu akan lari
ke sana ke mari. Tak kumengerti, bagaimana pohon ini bisa mempertautkan
ibu dan anak perempuan kecintaannya dalam mimpi.
Aku berdoa, pohon ini akan tumbuh subur, selalu hijau di segala musim
seperti sifat-sifatnya yang kupelajari daripada buku. Tak perlu menjadi
pohon emas, dan Mami selalu sihat.
Dewan Sastera Bil. 12 2019 24

