Page 113 - Dewan Sastera Ogos 2020
P. 113
CERPEN MASTERA
“Untunglah aku akhirnya tinggal. Aku nyaris kaku ketika Eep Saefulloh Fatah lahir di
bisa melepaskan diri dari enam kau bisikkan kata-kata itu …. Cibarusah, Bekasi, tahun 1967,
bulan terpanjang dalam hidupku menerima pendidikan di Ma-
itu. Kabur dari Berlin, kembali “Terima kasih banyak Lusi. drasah Ibtida’iyah, di Ciba-
pulang, tapi hidup tetap tak Untuk pertama kali dalam rusah dan di SMAN 1 Bekasi,
bersahabat. Akhirnya kuulang waktu yang sangat panjang, aku seterusnya mengikuti jurusan
pekerjaan yang sama di sini. Kali sanggup berbagi dan menangis. Ilmu Politik FISIP UI Depok.
ini atas kemauanku. Persisnya, Kufikir air mataku sudah habis
karena aku tak punya pilihan lain. di Berlin. Kembalilah, Lusi. Aku Selepas kuliah, beliau
Hingga sampailah aku di titik ini. akan menunggu. Jangan-jangan menjadi pengajar dan peneliti
Ketika Sungai Vltava mengamuk aku sudah jatuh cinta padamu.†jurusan Ilmu Politik FISIP UI.
tempo hari, keinginanku untuk Beliau juga penyelidik berse-
mengakhiri hidup menderas Suaramu parau. Aku hanya kutu di Lembaga Penelitian
begitu saja seperti air sungai yang bisa mengeratkan pelukan dan Pengembangan Ilmu Sosial
sedang murka. dan mengusap-usap lembut (LPPIS), dan Lembaga Studi
punggungmu, â€Aku akan dan Pengembangan Etika Us-
“Ya … aku ingin bunuh segera menghubungimu, Elena. aha Indonesia (LSPEU). Sejak
diri. Rasanya aku sanggup Sesampai di Jakarta.†tahun 1994 hingga awal tahun
menghadapi hidup yang berat 2000, beliau lebih aktif di Lab-
dan keras, tapi tidak hidup yang Berjalan menuju ruang tunggu oratorium Ilmu Politik FISIP UI
terasa hambar seperti ini ….†pesawat yang akan membawaku Depok sebagai Ketua Bahagian
ke Jakarta seperti memasuki Pendidikan, Ketua Bahagian
Sesenggukanmu mengeras. lorong panjang yang asing. Kita Penelitian, dan akhirnya Wakil
Sebuah cara pilu mengakhiri cerita menjauh, tapi suaramu seperti Pengarah.
panjangmu. Dalam pelukanku makin keras memanggil-manggil.
yang merapat, semua bahagian Beliau pernah menjawat
badanmu terasa bergetar. Seperti Diam-diam, kupastikan untuk ketua Litbang Redaksi Repub-
mesin pengeras jalan yang dengan segera kembali. Diam-diam, aku lika dari Disember 1994 hingga
lembut menekan-nekan dadaku. terganggu perasaan serupa Elena. November 1997, dan sidang re-
Lembut sekali. Melahirkan rasa Jangan-jangan aku sudah jatuh daksi akhbar Metro. Selain itu,
yang asing dan nyaris tidak cinta. beliau pernah menjabat sebagai
kukenali. wakil pemimpin redaksi jurnal
Susukmu hilang tertelan Seri Penerbitan Studi Politik, ker-
Malam makin larut dalam kelokan menuju ruang tunggu ja sama antara UI dan penerbit
sunyi. Lalu semua terjadi begitu pesawat. Dan, telefon genggamku Mizan, Bandung.
saja. Engkau tak lagi kupeluk, tapi bergetar.
kita saling memeluk. Dan, pada Beliau telah menerbitkan
dini hari pengujung musim panas “Mama, kami tak bisa sembilan buku menerusi be-
itu, kita tergeletak kelelahan tidur. Tak sabar menunggumu berapa penerbit. Beliau aktif
begitu saja seusai perjalanan pulang. Aku dan anak-anak akan menyumbang tulisannya da-
saling bertaut penuh gelegak menjemputmu di Cengkareng,†lam banyak buku yang terbit
yang menguras keringat. suara sengau milik suamiku antara 1994-2000. Beliau juga
terdengar dari tengah malam menulis artikel serius untuk se-
*** Jakarta. Keriangannya tak bisa jumlah jurnal.
disembunyikan.
Senja bergerimis. Langit di atas 15 MASTERA | Dewan Sastera Bil. 8 2020
Lapangan Terbang Antarabangsa Ruang tunggu yang ramai
Praha tersapu terlalu banyak tiba-tiba terasa begitu senyap. Di
kelabu. Birunya seperti malu- belakangku, terhalang berlapis-
malu. Enggan memperlihatkan lapis dinding, di bawah gerimis
diri. senja Praha seorang perempuan
Ceko sedang menangisi
Engkau mematung menopang kepergianku. Nun di depanku,
dua matamu yang nanar. Lagi- dipeluk malam Jakarta, seorang
lagi bertelaga. Baru saja kita lelaki mendekap rindunya yang
menunaikan pelukan selamat meluap untukku.

